Subscribe

RSS Feed (xml)

Sabtu, 15 Februari 2014

Rencana Pemerintah Untuk Menaikkan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) Untuk Mobil dan Barang Super Mewah Segera Terlaksana


Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri mengungkapkan, draft Peraturan Pemerintah (PP) terkait pajak barang mewah atau PPnBM masih dalam proses di Sekretariat Negara (Setneg).
Draft PP tersebut diperuntukkan bagi kenaikan pajak barang-barang super mewah, seperti mobil (Lamborghini, Porsche, Ferrari dan lainnya) serta produk lain, misalnya tas, jam tangan dan sebagainya.

"Proses PPnBM barang mewah masih berlanjut. Draft peraturan untuk mobil mewah sepertinya sudah diteken Kementerian Hukum dan HAM, tapi saya lupa tanggal persisnya kirim draft itu ke Setneg," ujarnya saat ditemui di acara Pengalihan Fungsi Peraturan dan Pengawasan Perbankan di Kantor Bank Indonesia (BI), Jakarta, Selasa (31/12/2013).
Progres pajak mobil mewah, tambah Chatib, selangkah lebih maju karena pemerintah telah melayangkan draft tersebut ke Setneg sudah jauh-jauh hari.
"Kalau PPnBM mobil sudah lebih lama masuk ke Setneg. Tapi kalau di luar mobil mewah, sepertinya baru dua pekan ini," lanjutnya.
Meski begitu, dia berharap, aturan pajak barang mewah ini bisa terbit secara bersamaan pada Januari tahun depan. "Kalau lihat progresnya, aturan mobil mewah dulu yang bakal keluar. Tapi mudah-mudahan keduanya bisa rilis Januari 2014," tandasnya.
Sebelumnya, Chatib Basri mengaku belum dapat memastikan penerbitan PP terkait pajak barang mewah. Padahal Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan bakal mulai memberlakukan pajak barang mewah pada Desember 2013.
"Itu sudah dikirim ke Presiden, saya tidak tahu kapan dikeluarkan. Informasi Pak Hidayat bagus mengenai itu karena bidang dia," ujar dia. Chatib menerangkan, draft PP tersebut masih dalam proses karena untuk menerbitkannya harus melalui kementerian terkait dan Presiden.
Rencana tersebut sebetulnya molor dari jadwal semula yang ditargetkan berlaku mulai 1 November 2013. Kelambatan ini berasal dari Kementerian Keuangan dan merupakan kebijakan Presiden. (Fik/Nrm)

Senin, 10 Mei 2010

Penerimaan mahasiswa baru Program Diploma III dan I Keuangan, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)

Kementerian Keuangan kembali akan membuka penerimaan mahasiswa baru Program Diploma III dan I Keuangan, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) untuk Tahun Akademik 2010/2011. Pendaftaran ini dibuka mulai tanggal 10 Mei 2010 dan akan ditutup tanggal 4 Juni 2010. Sedangkan Ujian akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2010 pukul 08.30 WIB/09.30 WITA/10.30 WIT.
Informasi selengkapnya mengenai persyaratan dan tata cara pendaftaran untuk mengikuti Ujian Masuk STAN ini dapat dibaca disini

Jumat, 19 Februari 2010

Kampanye Simpatik Penyampaian SPT Tahun Pajak 2009

Pada hari Jumat tanggal 19 Pebruari 2010 KP2KP Sampang melakukan Kampanye Simpatik tentang Penyampaian SPT Tahun Pajak 2009 dengan cara membagikan cinderamata berupa bunga mawar sebagai perlambang kepercayaan dan sticker yang dibagikan oleh putri-putri terbaik sampang sebagai Duta Pajak KP2KP Sampang

dengan harapan masyarakat sampang memberikan kepercayaannya dan mulai taat dalam menyampaikan laporan pajaknya khususnya SPT Tahun Pajak 2009.



 Bapak Ikhwanudin, SE,M.Si. sebagai kepala kantor yang ikut terjun langsung kelapangan.







.

Kamis, 14 Januari 2010

Zakat vs Pajak

     Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan mengenai hubungan antara Zakat dan Pajak berkaitan dengan pengalaman penyuluhan  di Kabupaten Sampang yang notabene masyarakatnya dikenal sangat kuat dalam syariat dan keislamannya, penulis mencoba  lebih mendalam untuk mengkajinya.
     Istilah Zakat lebih dikenal dikalangan Umat Islam, namun demikian agama-agama lainpun pasti ada yang serupa dengannya, hanya menggunakan istilah yang berbeda. Semua agama mengharuskan pemeluknya untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan.
     Zakat merupakan penunaian harta dari seorang muslim kepada muslim yang lain setelah melewati wilayah nishab (batasan seseorang wajib zakat/ ukuran yang wajib dizakatkan) dan haul (masa pemmbayaran zakat). Zakat merupakan perintah agama dan merupakan kewajiban bagi seorang muslim yang memiliki harta dan telah memenuhi kriteria nishab dan haul.
     Ada 3 (tiga) kegunaan zakat bagi masyarakat, pertama bagi pembayar zakat (muzakhi) secara tauhid dia meyakini bahwa harta itu adalah amanah, karena menurut islam harta itu bukan milik kita seluruhnya, ada sebagian hak orang lain dalam harta kita sehingga harus dikeluarkan untuk diberikan kepada yang berhak. Kedua, zakat berguna untuk mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin dan ketiga, zakat dikeluarkan dalam rangka pemerataan distribusi pendapatan.
     Dilihat dari segi penyalurannya zakat diberikan kepada 8 (delapan) asnaf atau golongan orang yang berhak menerima zakat. Penyaluran zakat yang diberikan bisa dalam dua bentuk yaitu hibah dan pemberdayaan masyarakat. Hibah diberikan dalam bentuk uang sedangkan pemberdayaan amsyarakat diberikan dalam bentuk pelatihan-pelatihan keterampilan kepada masyarakat.
     Orang barat sering mengatakan "In this world nothing is certain except death and taxes." Bila dilihat dari sudut pandang agama, pernyataan tersebut memeang terkesan berlebihan. lalu, bagaimana para pemikir Barat dan Islam menjelaskan tentang pajak? Hal tersebut akan dibahas dalam bagian berikut ini.

Teori Pajak
Pajak merupakan sarana bagi pemerintah dalam mencapai tujuan untuk membiayai kegiatannya, baik yang bersifat langsung dan tidak langsung dari masyarakat. Secara bebas, pajak dapat diartikan sebagai suatu kewajiban yang berupa pengabdian dan peran aktif masyarakat untuk membiayai pengeluaran negara. Jika pada zaman dahulu, harta kekayaan yang wajib diberikan kepada negara bias berbentuk tenaga (kekuatan fisik, keterampilan atau keahlian) atau harta benda, maka sekarang ini pemberian tersebut bentuknya sudah berupa uang. Secara teoritis pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat kontraprestasi yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum. Meskipun secara definitif pajak merupakan iuran yang dapat dipaksakan, namun pemungutannya sendiri tidak boleh dilakukan secara gegabah, dalam artian harus memperhatikan syarat-syarat tertentu, yaitu :
a. Adil (syarat keadilan)
b. Berdasarkan Undang-undang
c. Tidak mengganggu perekonomian
d. Efisien (syarat finansial)
e. Sederhana

Pajak dalam Konteks Agama Islam
     Pajak atau dharibah diambil dari kata dharaba yang artinya utang, pajak tanah atau upeti dan sebagainya. Yaitu suatu yang mesti dibayar, sesuatu yang menjadi beban. Begitulah, orang memandang pajak sebagai paksaan dan beban yang berat. Pajak yang diakui dalam sejarah islam dan dibenarkan sistemnya, menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawy, harus memenuhi syarat-syarat diantaranya :
1. Benar-benar harta itu dibutuhkan (negara) dan tidak ada sumber lain;
2. Pembagian beban pajak harus adil;
3. Hendaknya untuk membiayai kepentingan umat, bukan untuk maksiat dan hawa nafsu;
4. Atas persetujuan para ahli dan cendikia.
     Dalam konteks agama islam sebenarnya tidak dikenal istilah pajak, yang ada hanya zakat, infak dan shodaqoh. namun ada semacam hukum dalam masyarakat muslim di sebuah negara islam yang mengatur bahwa untuk warganya yang beragama muslim diwajibkan membayar zakat, sedangkan untuk mereka yang non-muslim diharuskan membayar sejenis pajak tetapi hal tersebut hanya untuk segi keamanan mereka saja. Salah seorang filsuf Islam Kenamaan, Al-Ghazali mengatakan bahwa apabila kas negara itu kosong dan tak ada biaya yang mencukupi untuk pengeluaran biaya militer sedangkan ditakutkan masuknya musuh kedalam negara Islam, atau tumbuhnya pemberontakan dari pihak mereka yang bermaksud jahat, maka dibolehkan kepada negara memungut biaya dari orang kaya sekedar dapat mencukupi pembiayaan tentara. Karena kita mengetahui bahwa apabila timbul dua bahaya maka syara' mengharuskan menolak bahaya yang lebih besar. Beban yang diberikan kepada orang kaya itu lebih kecil bahayanya dibanding dengan bahaya yang mengancam jiwa dan hartanya, jika di negeri itu tidak terdapat kepala negara yang kuat yang dapat memelihara segala urusan dan menolak segala bahaya.

Perbedaan Zakat dan Pajak
     Meskipun zakat dan pajak merupakan pungutan yang harus dibayar oleh orang yang sudah memenuhi syarat tertentu, zakat dan pajak jelas berbeda. Tapi mana bedanya, bisa jadi tidak semua orang tahu. Dengan mudah kita dapat mengatakan, zakat adalah kewajiban agama. sedang pajak merupakan ketentuan yang diterapkan dan dipungut oleh pemerintah. Padahal jika dirunut-runut, sesungguhnya cukup banyak perbedaan antara zakat dengan pajak. Perbedaan paling mendasar antara keduanya adalah perkara niat. Hampir dapat dipastikan, seseorang yang membayar zakat dilandasi dengan niat, sementara untuk pajak jangankan niat, yang seringkali terjadi - tanpa bermaksud menggenalisir - orang justru berusaha sebisa mungkin menghindar dari pajak. kalaupun tidak dapat menghindar, maka mereka berupaya agar pajak yang mereka bayar bisa sekecil mungkin.
     Meskipun zakat dan pajak adalah kewajiban, namum keduanaya memiliki sudut pandang yang berbeda bagi tiap orang. Bagi seorang orang Islam yang telah memenuhi nishab dan haul zakat merupakan kewajiban sehingga bagi yang tidak menunaikannya maka orang tersebut akan merasa berdosa. Walaupun membayar pajak juga adalah sebuah kewajiban, namun bagi sebagian orang belum tentu hal itu dilaksanakan sekalipun sebenarnya dia telah memenuhi ketentuan untuk membayar pajak. Bahkan bagi sebagian orabg mungkin merasa tidak berdosa jika tidak membayar pajak.
     Perbedaan lainnya adalah mengenai dasar hukum yang dijadikan acuan. Zakat berangkat dari hukum agama, yang tak lain adalah merupakan manifestasi dari ketaatan pada Tuhan, sementara pajak bertolak dari hukum publik yang sebenarnya lebih merupakan perwujudan dari ketaatan pada negara.
     Hal lain yang membedakan zakat dan pajak secara umum adalah berkaitan dengan teritorial/ wilayah. Zakat boleh dibilang tidak mengenal yang namanya batasan wialayah atau negara. Mengingat tadi "dasar pengenaannya" bertolak dari hukum agama, maka ketentuan zakat berlaku universal. Tidak demikan halnya dengan pajak, yang "terganjal" oleh batas wilayah atau negara. Dalam hal ini, negara yang berbeda akan menerapkan ketentuan pajak yang berbeda pula. Dilihat dari pihak yang melakukan pembayaran, maka zakat dibayar oleh penduduk yang beragama islam (muslim). Sedangkan pajak, dibayar oleh penduduk tanpa memandang agama.
     Perbedaan antara zakat dan pajak bukan hanya dilihat dari kepada siapa kewajiban tersebut ditunaikan, akan tetapi juga dari segi normatif dan nilai yang dianut oleh masyarakat. Menurutnya pembayaranz akat didasarkan pada sumber-sumber yang halal. Zakat sangat memperhitungkan darimana penghasilan tersebut diperoleh dan apakah penghasilan tersebut harus dikenai zakat. Sedangkan pajak yang dipungut dinegara ini tidak dilihat darimana sumber penerimaan pajak tersebut berasal, apakah itu dari perusahaan minuman keras, diskotik dan sebagainya. Zakat haruslah berasal dari harta yang telah terjamin kehalalannya sebab hal tersebut merupakan syarat mutlak karena harta yang diperoleh dari cara yang tidak halal tidak boleh diambil zakatnya, sedangkan pajak memang tidak melihat darimana sumber penerimaan itu berasal, baik dari yang halal maupun yang haram. Asalkan memberikan tambahan kemampuan ekonomis kepada pemiliknya yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan, suatu penghasilan bisa dikenai pajak.

Persamaan Zakat dan Pajak
     Zakat dan Pajak harus disetorkan pada lembaga resmi agar tercapai efisiensi penarikan keduanya dan alokasi penyalurannya. Dalam pemerintahan islam, zakat dan pajak dikelola oleh negara. Persamaan lainnya adalah menegnai imbalan langsung atas pembayarannya. Tak ubahnya seperti pajak yang tidak memperoleh kontraprestasi langsung, demikian pula halnya atas zakat yang dibayarkan tidak memperoleh imbalan materi tertentu di dunia. Selain itu jika dilihat dari sisi tujuan terdapat kesamaan antara keduanya yakni ditujukan untuk menyelesaikan problem ekonomi dan mengentaskan kemiskinan yang terdapat di masyarakat.

Perlakuan Pajak terhadap Zakat
     Munculnya perlakuan PPh atas zakat dalam UU PPh sebenarnya untuk mengakomodasi ketentuan di dalam UU Nomor 38 Tahun 1999 (UU Zakat) yang telah lebih dulu ada. Di dalam Pasal 14 ayat (3) UU Zakat dinyatakan, "Zakat yang telah dibayarkan kepada Badan Amil Zakat atau lembaga amil zakat dikurangkan dari laba/pendapatan sisa kena pajak dari wajib pajak yang bersangkutan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku."
     Selaras dengan itu, dalam Pasal 9 UU PPh dinyatakan bahwa :
"(1) Untuk  menentukan  besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan :
g. harta  yang  dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Ayat(3) huruf  a  dan  huruf b,  kecuali   sumbangan  sebagaiamana  dimaksud  pasal 6 Ayat  (1) huruf i  sampai dengan  huruf m serta  zakat  yang   diterima  oleh   badan Amil  Zakat  yang  dibentuk  atau  disahkan oleh Pemerintah atau sumbangan  keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga  keagamaan  yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah, yang Ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah."
     Ketentuan di atas memperkenankan zakat sebagai pengurang penghasilan, dengan syarat zakat tersebut dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama islam dan atau wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah.
     Jika dicermati secara gramatikal, didalam ketentuan diatas dinyatakan bahwa hanya zakat atas penghasilan saja yang boleh dijadikan pengurang penghasilan bruto bagi wajib pajak. lalu bagaimana dengan zakat maal ataupun zakat fitrah yang telah dibayarnya, apakah zakat maal dan zakat fitrah tersebut juga dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan? Hal ini bisa saja diperdebatkan di lapangan.
     Ketentuan mengenai zakat sebagai pengurang penghasilan saat ini belum ideal karena perlakuan zakat dalam undang-undang pajak baru sebatas sebagai pengurang penghasilan dan jadi belum dianggap sebagai kredit pajak.
     Zakat sebagai pengurang penghasilan dalam implementasinya masih terdapat beberapa hambatan, hal ini diantaranya disebabkan karena pajak hanya mengakui tanda bukti penerimaan zakat yang diserahkan kepada badan atau lembaga amil zakat. Sementara banyak wajib pajak yang menyalurkan zakat secara langsung, baik melalui masjid, RT, RW yang tanda bukti penyerahan zakatnya ternyata tidak dapat dijadikanan sebagai pengurang penghasilan dalam penghitungan pajaknya.
     Permasalahan lain pajak hanya mengakui zakat sebesar 2,5 % dari harta atau penghasilan yang dizakati. Sedangkan dalam kenyataannya ada Wajib pajak yang membayar lebih dari 2,5 % sehingga menurutnya pajak seharusnya bisa mengakui jumlah zakat yang dibayarkan sesungguhnya oleh Wajib Pajak dan juga bisa menerima tanda bukti selain yang dikeluarkan oleh badan atau Lembaga Amil Zakat.
     Idealnya zakat bisa menjadi kredit pajak dan seharusnya zakat bisa menjadi pengurang pajak secara langsung bukan hanya sebagai pengurang penghasilan kena pajak, seperti halnya negara-negara seperti malaysia, Kuwait dan Arab Saudi yang telah memperlakukan zakat sebagai pengurang pajak secara langsung atau sebagai kredit pajak.
     Petunjuk pelaksanaan mengenai zakat sebagai pengurang penghasilan telah diatur lebih lanjut dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-163/PJ/2003 tentang Perlakuan Zakat Atas Penghasilan Dalam Penghitungan Penghasilan Kena Pajak Pajak Penghasilan. Dalam keputusan tersebut dinyatakan bahwa besarnya zakat yang dapat dikurangkan dari Penghasilan Kena Pajak adalah sebesar 2,5 % dari jumlah penghasilan.
     Mudah-mudahan kami dari Direktorat Jenderal Pajak dapat segera merancang dan mengatur secara tegas hal-hal yang belum diatur seperti disebutkan diatas agar ada jaminan kepastian hukum dan keadilan bagi wajib pajak yang beragama islam yang telah melakukan kewajiban zakatnya. (papacindy.com)
    


Senin, 04 Januari 2010

Melayani dengan Baik, Jujur dan Menepati Janji

Saya tertarik dengan sebuah kisah di bawah ini yang masuk ke mailbox saya. Ceritanya sebenarnya simple dan sederhana namun banyak orang kurang memperhatikan bahkan untuk ukuran Indonesia banyak orang merasa kurang mempercayai pelayanan public karena banyak orang telah tertipu.

Saya percaya satisfaction sudah menjadi komitmen penting bagi perusahaan besar di Indonesia namun masih banyak sekali orang yang tidak puas dengan pelayanan public, mungkin karena hal itu baru hanya merupakan kebijakan tertulis perusahaan yang menjadi bagian dari perusahaan dan belum menjadi bagian dari setiap pribadi. Masih sedikit sekali menyentuh lapisan bawah dan bukanlah hal yang berlebihan jika saya mengira masih jauh lebih banyak orang Indonesia tidak puas dengan pelayanan public yang ada di Indonesia.

Kisah GM Mercedez Benz
Suatu hari bos Mercedez Benz mempunyai masalah dengan kran air dirumahnya. Kran itu selalu bocor hingga dia kawatir anaknya terpeleset jatuh. Atas rekomendasi seorang temannya, Mr. Benz menelpon seorang tukang ledeng untuk memperbaiki kran miliknya. Dari pembicaraan lewat telpon disepakati Perjanjian perbaikan ditentukan 2 hari , kemudian karena si tukang ledeng rupanya cukup sibuk pembicaraan mereka ditutup. Si tukang ledeng sama sekali tidak tahu bahwa si penelpon adalah bos pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman ..

Umumnya orang kita rela berlama-lama melayani customer sekalipun sedang sibuk mengerjakan sesuatu dan menanyakan secara detail bahkan tidak jarang sampai menanyakan hal-hal yang sifat pribadi. Jika order berasal dari orang terkenal atau nilai lebih besar bukan tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakan

Satu hari setelah ditelpon Mr.Benz , pak tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk menyampaikan terima kasih karena sudah bersedia menunggu satu hari lagi. Bos Mercy-pun kagum atas pelayanan dan cara berbicara pak tukang ledeng.

Pada hari yang telah disepakati, si tukang ledeng datang ke rumah Mr.Benz untuk memperbaiki kran yang bocor. Setelah kutak sana kutak sini, kranpun selesai diperbaiki dan pak tukang ledeng pulang setelah menerima pembayaran atas jasanya.

Sekitar 2 minggu setelah hari itu, si tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk menanyakan apakah kran yang diperbaiki sudah benar-benar beres atau masih timbul masalah ?

Mr. Benz menjawab di telepon bahwa kran dirumahnya sudah benar-benar beres dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan pak tukang ledeng.

Mr. Benz berpikir pasti orang ini orang hebat walaupun cuma tukang ledeng.

Tahukah anda bahwa beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut si tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya ?

Ya , namanya Christopher L.Jr .Saat ini beliau adalah General manager Customer Satisfaction and Public Relation di Mercedez Benz !

Jangan lupa dan aplikasikan dalam tingkah laku sehari hari :
Masukkan hanya informasi dan nasehat positif untuk otak kita. Jangan pernah memberinya sampah.
Jangan sampai rasa takut mengalahkan kita. Hadapi dia face to face!
Tersenyumlah dengan tulus dari hati yang paling dalam dan Jadilah orang yang menyenangkan.
Selalu berusaha untuk lebih memberikan pelayanan terbaik walaupun itu tidak diminta.

Semoga bermanfaat untuk meningkatkan Pelayanan Kita..!!

KP2KP Sampang : Mengenali, Mencintai dan Melayani...


Kamis, 31 Desember 2009

Kesan Akhir Tahun dari Penyuluhan Dana Rehab MI 2009 Kab. Sampang



       Ada hal yang menarik dan tidak seperti biasanya kami temukan pada penyuluhan-penyuluhan lainnya, dimana pada tanggal 29-31 Desember 2009 kami melakukan penyuluhan terhadap 403 Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Yayasan yang menaunginya ( +/- 1.500 peserta) yang memperoleh Dana Bantuan Rehabilitasi Gedung MI Sekabupaten Sampang.
      Setelah kami menjelaskan mekanisme dan peraturan terkait tentang aspek perpajakan karena pesertanya memiliki latar belakang lembaga pendidikan dan yayasan keagamaan maka pertanyaannya selalu dihubungkan dengan zakat dan Syariah.
       Kepala KP2KP Sampang mengatakan bahwa Pajak itu adalah suatu revolusi terbesar yang dibawa oleh islam. Dirinya menganggap bahwa teknik pajak yang mencontoh dari zakat itu benar-benar langkah revolusioner dalam bidang ekonomi. Namun ia menegaskan bahwa antara pajak dengan zakat itu tidaklah dapat dipersamakan. Hal ini perlu ditegaskan karena menurutnya masih ada orang yang menganggap bahwa pajak itu sama dengan zakat. "Pajak kalau mau sama dengan zakat aturannya ya harus sama dengan zakat juga," ujarnya.

        Ketika disinggung masalah pengenaan PPN pada transaksi Murabahah ia mengatakan bahwa murabahah itu dalam artian fiqih di definisikan sebagai jual beli, dimana penjual menyebutkan jumlah keuntungan yang didapatnya. Transaksi inilah yang menimbulkan terutang PPN.

Rabu, 23 Desember 2009

Pelayanan Kepada Wajib Pajak Pada Akhir Tahun Anggaran 2009

Sehubungan dengan akan berakhirnya tahun anggaran 2009 dan untuk meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak, sesuai dengan SE DJP nomor 115/PJ/2009 disampaikan bahwa :

  1. Untuk pembayaran pajak selain PBB dan BPHTB, bank/pos persepsi mulai tanggal 21 s/d 31 Desember 2009 membuka loket pembayaran sampai dengan pukul 15.00 waktu setempat
  2. Untuk pembayaran PBB dan BPHTB, bank/pos persepsi mulai tanggal 21 s/d 30 Desember 2009 membuka loket pembayaran sampai dengan pukul 14.00 waktu setempat dan pada tanggal 31 Desember 2009 membuka loket pembayaran sampai dengan pukul 12.00 waktu setempat

Rabu, 16 Desember 2009

SPT Tahun Pajak 2009

    Sesuai dengan PERATURAN DIRJEN PAJAK NOMOR PER-9/PJ/2009 TANGGAL 4 PEBRUARI 2009 TENTANG TEMPAT DAN CARA LAIN PENGAMBILAN SPT maka formulir SPT Tahunan mulai tahun pajak 2009 ini tidak lagi dikirimkan kepada wajib pajak melainkan dapat diambil sendiri di tempat tempat yang telah ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Oleh karena itu KP2KP Sampang berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik dengan memastikan kemudahan Wajib Pajak untuk mendapatkan formulir SPT Tahunan beserta lampirannya secara :
  1. Tepat yaitu formulir SPT tahunan tersebut benar benar diperoleh Wajib Pajak sendiri tanpa perantara maupun biaya apapun.
  2. Akurat yaitu formulir SPT tahunan tersedia sesuai dengan jumlah Wajib Pajak yang membutuhkan di wilayah kerjanya yaitu Kabupaten Sampang, sehingga sebisa mungkin tidak terjadi kekurangan persediaan formulir yang dapat mengakibatkan keterlambatan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajibannya.
Selain mengambil formulir yang disediakan secara langsung, dapat pula dengan cara mendownload formulir SPT tahunan di menu download form

Selasa, 01 Desember 2009

Pelayanan KP2KP Sampang

Pelayanan di KP2KP Sampang
  1. Pendaftaran NPWP
    • Wajib Pajak Orang Pribadi
    • Wajib Pajak Badan
    • Wajib Pajak Bendahara
  2. Pelaporan SPT Masa dan SPT Tahunan
  3. Konsultasi masalah perpajakan